Tuberkulosis Pada Anak

tuberkulosis pada anakPenyakit tuberkulosis dapat menyerang manusia mulai dari usia anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Penyakit tuberkulosis biasanya banyak ditemukan pada pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadaran tinggi sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim. Tuberkulosis pada anak dapat terjadi di usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun.

Anak-anak lebih sering mengalami tuberkulosis luar paru-paru (extapulmonary) dibanding tuberkulosis paru-paru dengan perbandingan 3:1. Tuberkulosis luar paru-paru adalah tuberkulosis berat yang terutama ditemukan pada usia < 3tahun. Angka kejadian (prevalensi) tuberkulosis paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian meningkat setelah usia remaja di mana tuberkulosis paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).

Keluhan tuberkulosis pada anak yang sering muncuk, antara lain :

1. Demam : subfebris, febris (40-41◦C) hilang timbul.

2. Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkhus. Batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang yang dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum).

3. Sesak napas : bila sudah lanjut di mata infiltrasi radang sampai setengah paru-paru.

4. Nyeri dada : jarang ditemukan, nyeri akan timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.

5. Malaise : ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan keringat malam.

6. Sianosis, sesak napas dan kolaps merupakan gejala atelektasis,. Bagian dada pasien tidak bergerak pada saat bernpasa dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Pada foto toraks, pada sisi yang sakit tampak bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.

7. Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal, karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular.

Pemeriksaan fisik pada tuberkulosis anak :

1. Pada tahap dini sulit diketahui
2. Ronchi basah, kasar dan nyaring
3. Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskulatasi memberikan suaru umforik
4. Pada keadaan lanjut terjadi atropi, retraksi interkostal dan fibrosis
5. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak).

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena ineksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paur termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar. Diperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia pernah terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis.

tuberkulosis paru

Epidemiologi Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang sejarahnya dapat dilacak sampai ribuah tahun sebelum masehi. Sejak zaman purba penyakit ini dikenal sebagai penyebab kematian yang menakutkan. Sampai pada saat Robert Koch menemukan penyebab tuberkulosis, penyakit ini masih termasuk penyaki yang mematikan. Istilah saat itu untuk penyakit yang mematikan ini adalah “consumption”. Tuberkulosis di Amerika Serikat pada tahun 1915. Saat itu, masih dianut paham bahwa penularan tuberkulosis adalah melalui kebiasaan meludah di sembarang tempat dan ditularkan melalui debu dan lalat. Hingga tahun 1960, paham ini masih dianut di Indonesia.

Di negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Utara, angka kesakitan maupun angka kematian tuberkulosis paru pernah menurun secara tajam. Di Amerika Utara, saat awal orang Eropa berbondong-bondong bermigrasi ke sana, kematian akibat tuberkulosis pada tahun 1.800 sebesar 650 per 100.000 penduduk, tahun 1860 turun menjadi 400 per 100.000 penduduk, di tahun 1900 menjadi 210 per 100.000 penduduk, pada tahun 1920 turun lagi menjadi 100 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1969 turun secara drastis menjadi 4 per 100.000 penduduk per tahun. Angka kematian karena tuberkulosis di Amerika serikat pada tahun 1976 telah turun menjadi 1,4 per 100.000 penduduk. Penurunan angka kesakitan maupun angka kematian ini diyakini disebabkan oleh :

-  Membaiknya keadaan sosioekonomik

-  Infeksi pertama yang terjadinya pada usia muda

Tuberkulosis masih meningkat saat ini meskipun banyak yang masih menyakini bahwa ini merupakan masalah pada waktu lampau. Meskipun paling sering terlihat sebagai penyakit paru. Tuberkulosis dapat mengenai selain paru (16%) dan mempengaruhi organ dan jaringan lain. Insiden lebih tinggi pada laki-laki, bukan kulit putih dan lahir di negara asing.

Selain itu, orang pada risiko paling tinggi termasuk yang dapat terpajan pada basilus pada waktu lalu dan yang tidak mampu atau mempunyai kekebalan rendah karena kondisi kronis, seperti AIDS, kanker, usia lanjut, malnutrisi dsb. Kebanyakan pasien diobati sebagai pasien rawat jalan, tetapi dapat dirawat di rumah sakit selama evaluasi, diagnostik/ awal pengobatan, reaksi merugikan dari obat atau penyakit atau ketidakmampuan berat.

 

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Pemeriksaan Tuberkulosis

Indonesia menempati urutan ketiga didunia, setelah India dan China pada penyakit Tuberkulosis. Untuk mengatasi dan mengurangi jumlah penderita tuberkulosis, Indonesia menerapakan DPS (Dokter Praktik Swasta) dan menerapkan strategi DOTS (Directly Obseved Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap dan digunakan sebagai satu-satunya strategi pemberantasan tuberkulosis di Indonesia.

Penting sekali DPS untuk memiliki paradigma bahwa pengobatan pasien tuberkulosis harus mengupayakan kesembuhan, tidak sekedar menemukan, mendiagnosis dan mengobati saja. Strategi DOTS memudahlan mencapai tujuan pengobatan tuberkulosis yaitu kesembuhan.

pemeriksaan tuberkulosis

Adapun DOTS meliputi lima komponen kunci, yaitu :

1. Komitmen politis. Ini bisa harus ada pada setiap dokter yang akan mengobati paisen tuberkulosis. Poin yang pertama ini berarti bahwa dokter bersedia dengan penuh tanggung jawab untuk menangani pasien tersebut hingga sembuh. Jika dokter tidak bersedia menangani, ia boleh merujuk pasien ke unit pelayanan kesehatan lainnya seperti puskesmas atau rumah sakit.

2. Pemeriksaan dahak mikroskopik yang terjamin mutunya, yaitu pemeriksaan 3 kali dahak SPS (sewaktu pagi sewaktu).

3. Pengobatan jangka pendek, termasuk pengawasan langsung pengobatan. Pengobatan minimal dilakukan 6 bulan baik pasien tuberkulosis anak maupun dewasa dan diawasi oleh PMO (pengawas minum obat).

4. Jaminan ketersediaan obat anti tuberkulosis (OAT) yang bermutu. Pemerintah memberikan OAT gratis bagi pasien tuberkulosis.

Hingga saat ini pemeriksaan dahak menjadi pemeriksaan yang wajib dilakukan untuk pasien tuberkulosis dewasa dan anak yang sudah bisa mengeluarkan dahak. Pemeriksaan dahak sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah pasien benar-benar menderita penyakit tuberkulosis atau tidak. Selain itu pasien dengan pemeriksaan dahak yang menunjukkan BTA (+) harus ditangani khusus karena ia menjadi sumber penularan bagi orang lain.

Untuk mendiagnosis tuberkulosis, dahak diperiksa minimal 3 kali yaitu saat datang ke laboratorium hari pertama, saat pagi hari ketika bangun tidur hari kedua, dan saat datang lagi ke laboratorium hari kedua. Rangkaian pemeriksaan ini disebut dengan SPS (sewaktu pagi sewaktu). Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, pasien harus mengerti bahwa yang diperiksa adalah dahak, riak/sputum, bukan air liur/ludah. Oleh karena itu, sebelum pasien datang ke laboratorium, dokter harus menjelaskan hal tersebut kepada pasien, termasuk cara mengeluarkan dahak apabila pasien kesulitan mengeluarkan dahak.

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Tuberkulosis TBC

tbcPenyakit tuberculosis TBC adalah salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini dapat menyerang semia bagian tubuh manusia namun yang paling sering terkena (90%) adalah organ paru.  Gejala TBC pari tdak sama dengan pneumonia, karena kuman yang menyerang TBC spesifik sedangkan kuman yang menyerang pneumonia dapat beracam-macam. Organ yang diserang pada TBC dapat bervariasi, namun 90% menyerang paru-paru, sedangkan pada pneumonia yang diserang selalu organ paru-paru. Tetapi TBC dan pneumonia prosesnya sama yakni berupa infeksi paru-paru.

Gejala penyakit tuberkulosis TBC paru umum adalah batuk berdahak terus menerus selama 3 minggu atau lebih. Pada tahap lanjut, dapat dijumpai dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, badan lemak, nafsu makan menurun, berat badan turun,  rasa kurang enak  badan  (malaise), berkeringat malam walaupun  tanoa kegiatan, demam meriang >1bulan. Saat batuk atau bersin, penderita TBC menebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman tersebut dapat bertahan di udara pada suhu selama beberapa jam.

Penularan gejala penyakit tuberkulosis TBC paru dapat terjadi jika droplet tersebut terhidup saluran pernapasan orang lain. Setelah masuk ke dalam tubuh melalalui pernapasan,  kuman TB menyebar dari paru ke organ dalam tubuh lainnya, melalui system peredaran darah, system saluran limfe, saluran napas, dan lain-lain.  Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari paru. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila  hasil pemeriksaan dahak negative (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Selain itu, kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara.

Bakteri TBC memiliki daya tahan  yang kuat dan tetap hidup walau sudah diberi antibiotic, sehingga membutuhkan pengobatan berbulan-bulan. Saat segala sudah reda, harus tetap menjalani pengiobatan karena kuman TBC tersebut tetap  aktif dan siap membentuk kekebalan terhadap obat  yang masuk ke dalam tubuh. Jika pengobatan berhenti sebelum  waktunya, maka dikhawatirkan timbul resistensi (kekebalan) bakteri TBC  terhadap antibiotika sehingga pengibatan akan semakin sulit dan semakin mahal.

Penderita  yang mengalami TBC tidak selalu mengalami batuk berdarah. Karena batuk berdarah dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena penyakit paru-paru lainnya atau adanya pendarahan didaerah hidung bagian belakang yang tertelan dan pada saat batu keluar dari mulut. Bisa juga  karena batuk terlalu keras sehingga menyebabkan lukanya saluran nafas dan mengeluarkan darah.

Umumnya media penularan TBC melalui percikan dahak penderita saat batuk dan meludah. Bisa juga melalui debum alat makan atau minum yang mengandung kuman TBC. Kuman yang masuk ke dalam tubuh akan berkembang biak, lama terkumpulnya kuman sampai timbulnya gejala penyakit dapat berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

 

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Tuberkulosis

Ada yang menganggap remeh, ada juga yang takut. Tuberkulosis dahulu hanya dianggap sebagai penyakit yang hanya dapat menyerang kalangan bawah, padahal anak-anak atau dewasa dengan gizi baik pun dapat terkena. Menurut D. Erlina Burhan, SpP (K), ahli Paru RS. Persahabatan , Jakarta. Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium tuberculosis ini, menyebabkan kerusakan terutama pada paru, menimbulkan ganggun berupa batuk, sesak napas, bahkan dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya. Bila dibiarkan, kuman ini dapat menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian. Saat ini tuberkulosis merupakan penyakit menular penyebab kematian utama di Indonesia.

Gambar : Penyebaran dan bakteri penyebab tuberkulosis

Berdasarkan hasil survei pada tahun 2010, jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia mencapai 289 per 100.000 penduduk. Bandingkan saja dengan jumlah penduduk di Indonesia yang sebesar 239 juta pada saat itu. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke-5 negara dengan penderita tuberkulosisi terbesar di dunia.

Tuberkulosis bukan penyakit baru buat Indonesia. Sudah ada sederet upaya memberantas penyakit ini dari pemerintah, tapi tidak juga berhasil membuat tuberkulosis dan penyebabnya lengkap. Indonesia hingga kini masih saja dirundung ancaman kematian akibat tuberkulosis.

Menurut Dr. Erlina, kematian akibat tuberkulosis umumnya karena kegagalan pengobatan. Ini terutama dipengaruhi oelh kurangnya oengertian mengenai tuberkulosis, faktor ekonomi, pengobatan yang tidak teratur, adanya penyakit penyerta, serta kebiasaan merokok dan gizi penderitannya.

Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, karena dahulu, penderita tuberkulosis jarus meminum4 jenis obat setiap hari selama 6 bulan. Biaya pengobatan tuberkulosis yang cukup besar, menyebabkan penderita nekat berhenti minum obat setelah 2-3 bulan. Biasanya selama masa ini, gejala tuberkulosis memang berkurang, badan tidak lagi kurus, meski sebenarnya kuman tuberkulosis hanya tertidur sementara waktu.

Putus pengobatan bukan tanpa risiko. Kuman yang luar biasa penyebab tuberkulosis ini akan bangun lagi dan menjadi lebih ganas. Sering kali penderita tuberkulosis yang putus obat, datang kembali dengan gejala yang lebih berat beberapa bulan kemudian. Bahkan sampai tidak lagi dapat diatasi dengan pengobatan standar karena kuman menjadi kebal.

Penderita tuberkulosis tentunya tidak bisa berhenti dalam pengobatan ini. Pengobatan tuberkulosis akan dihentikan bila gejala dan penyebab mulai menghilang dan tidak menunjukkan kemunculan kembali, tentunya atas ijin dan tetap dalam pengawasan dokter. Namun semua itu tergantung dari pola hidup penderita dan menjauhi penderita TBC lainnya.

Bila seperti ini, pengobatan akan menjadi sangat sulit. Pasien harus disuntik setiap hari selama 2 bulan. Itupun tidak menjamin kesembuhan, karena paru-paru atau organ lain sudah terlanjur rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi. Pengobatan yang seharusnya hanya 6 bulan, dapat menjadi jauh lebih panjang sampai 1-2 tahun.

Dengan demikian, keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada kepatuhan penderita dalam minum obat. Kehadiran pengawas dalam minum obat (PMO), apalagi orang yang dekat atau dihormati oleh penderita, selain mengingatkan untuk minum obat juga memberi semangat untuk sembuh. Selain rutin meminum obat, pasien juga hendaknya memperhatikan asupan makanan yang disantapnya, agar bergizi baik dan tinggi protein. Ini akan turut mendukung proses penyembuhan agar lebih sempurna.

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Tuberkulosis Paru Pada Anak

Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi akibat mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru, dengan gejala yang sangat bervariasi. Penting untuk diperhatikan bahwa janis bisa tertular tuberkulosis dari ibunya selama masih berada dalam kandunga, sebelum atau selama persalinan berlangsung (karena menghirup atau menelan cairan ketuban yang terinfeksi). atau setelah lahir (karena menghirup udara yang terkontaminasi oleh percikan ludah yang terinfeksi. Jika tidak diobati dengan antibiotik atau tidak divaksinasi, maka sekitar 50% bayi yang ibunya merupakan penderita tuberkulosis aktif akan menderita penyakit ini pada tahun pertamanya.

Gejala yang timbul pada bayi dan anak berupa :

  • Demam
  • Tampak mengantuk
  • Tidak kuat mengisap
  • Gangguan pernapasan
  • Gagal berkembang (tidak terjadi penambahan berat badan)
  • Pembesaran hati dan limpa karena organ ini menyaring bakteru tuberkulosis sehingga menyebabkan aktivasi sel-sel darah putih.

Sementara itu, gejala tuberkulosis yang timbul pada orang dewasa berupa :

  • Batuk lebih dari 4 minggu, dengan atau tanpa dahak (sputum)
  • Lemas
  • Timbul gejala flu
  • Berkeringat pada malam hari
  • Berat badan turun
  • Demam ringan
  • Nyeri di bagian dada
  • Batuk darah

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik
Gambaran gejala TB paru berupa :

  • Tahap asimptomatis
  • Timbul gejala TB yang khas, kemudian stagnasi dan regresi
  • Kekambuhan/feksaserbasi yang memburuk
  • Gejala berulang dan menjadi kronis

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :

  • Terdapat sekret di saluran napas dan ronki
  • Tanda-tanda infiltrasi suara napas yang redup, ronki basah
  • Tanda-tanda ada penarikan paru, difragma dan mediastinum dada

Pada pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan darah rutin memperlihatkan bahwa laju endap darah (LED) normal atau meningkat, serta terjadi limfositosis (limfosit tinggi).

Pada foto thoraks :

  • Terdapat gambaran lesi di bagian atas paru atau segmen apikal lobus bawah
  • Gambaran berawan (patchy) atau bercak (nodular)
  • Adanya kavitas tunggal atau ganda
  • Adanya pengapuran atau klasifikasi paru
  • Gambaran menetap pada pemeriksaan beberapa minggu kemudian
  • Gambaran milier

Pemeriksaan dahak (sputum)
Pemeriksaan sputum terhadap basil tahan asam (BTA) yang positif memastikan diagnosis TB paru. Namun pemeriksaan ini kurang sensitif karena hanya mendeteksi sekitar 30 hingga 70%.

Tes PAP (Perosidase Anti Peroksidase)
Tes ini merupakan uji serologi imunoperoksidase menggunakan alat histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya imunoglobulin G (IgG) spesifik terhadap basil TB

Tes Tuberkulin/Mantoux
Pilihan lain adalah melakukan tes tuberkulin/mantoux.

 

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Tuberkulosis

TBC merupakan infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksi biasanya terjadi di bagian atas paru-paru. Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh manusia dapat menghambat perkembangbiakan bakteri penyebab TBC. Akan tetapi, pada saat kondisi tubuh seseorang melemah, bakteri tersebut dapat berkembang biak.

Gejala pada penderita TBC antara lain :

- Kelelahan
- Kehilangan berat badan
- Berkeringat pada malam hari

Jika infeksi lebih buruk, gejala yang akan timbul yaitu :

- Dada sakit
- Batuk dengan mengeluarkan dahak atau darah
- Napas pendek


Penderita TBC dapat diobati dengan pemberian antibiotik oleh dokter. Pengobatan secara teratur selama 6-12 bulan dapat mencegah TBC kambuh lagi

Penyakit TBC merupakan penyakit menular. Oleh karena itu, pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak langsung dengan penderita TBC. TBC dapat menular misalnya melalui dahak penderita TBC yang secara tidak langsung terhirup manusia yang sehat.

Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guedrin)

Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menghindarkan balita dari penyakit tuberkulosis atau TBC. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, TBC masih menjadi penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara maju, penyakit TBC sudah sangat jarang ditemukan karena keberhasilan imunisasi BCG yang dilaksanakannya secara luas.

Balita dapat terkena penyakit TBC karena menghirup udara yang mengandung kuman TBC yang berasal dari orang dewasa penderita TBC. Atau dapat pula terjadi balita terkena penyakit TBC sejak lahir karena ia dilahirkan oleh ibu penderita TBC. Penyakit TBC paling sering menyerang paru-paru, tetapi kuman ini juga dapat menyerang kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati dan selaput otak. Penyakit TBC selaput otak merupakan jenis TBC yang paling berat.

Imunisasi BCG sebaiknya diberikan kepada bayi yang baru lahir hingga berusia 2 bulan. Setiap 5 tahun, revaksinasi harus dilakukan. Sebab vaksin BCG tidak memberikan kekebalan 100% terhadap serangan penyakit TBC. Artinya vaksin ini hanya menjamin balita terbebas dari serangan penyakit TBC berat, misalnya TBC paru-paru kronis, TBC otak, atau TBC tulang yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian pada balita.

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cara Penularan TBC

Penyakit TBC ditularkan dari orang ke orang, terutama melalui saluran napas dengan menghisap atau menelan tetes-tetes ludah/dahak (droplet infection) yang mengandung basil dan dibatukkan oleh penderita TBC terbuka. Atau juga karena adanya kontak antara tetes ludah/dahak tersebut dan luka di kulit. Dalam tetes-tetes ini kuman dapat hidup beberapa jam dalam udara panas lembab, dalam nanah bahkan beberapa hari. Untuk membatasi penyebaran perlu sekali di -screen semua anggota keluarga dekat yang erat hubungannya dengan penderita. Dengan demikian penderita baru dapat dideteksi pada waktu yang dini.

Ada banyak kesalahfahaman mengenai daya penularan penyakit TBC. Umumnya ada anggapan bahwa TBC bersifat sangat menular, tetapi pada hakikatnya bahaya infeksi relatif tidak begitu besar dan dapat disamakan dengan penularan pada penyakit infeksi saluran pernapasan lainnya, seperti selesma dan influenza. Akan tetapi bahaya semakin meningkat, karena sering kali seseorang tidak diketahui sudah menderita TBC (terbuka) dan telah menularkannya pada orang-orang di sekitarnya sebelum penyakitnya terdeteksi.

Cara Pencegahan TBC

Penularan perlu diwaspadai dengan mengambil tindakan-tindakan pencegahan selayaknya untuk menghindarkan infeksi tetes dari penderita ke orang lain. Salah satu cara adalah batuk dan bersin sambil menutup mulut/hidung dengan sapu tangan atau kertas tissue untuk kemudian didesinfeksi dengan lysol atau dibakar. Bila penderita berbicara, jangan terlampau dekat dengan lawan bicaranya. Ventilasi yang baik dari ruangan juga memperkecil bahaya penularan.

Anak-anak dibawah usia satu tahun dari keluarga yang menderita TBC perlu divaksinasi BCG sebagai pencegahan, bersamaan dengan pemberian isoniazid 5-10 mg/kg selama 6 bulan (kemoprofilaksis).

1. Reaksi Mantoux (Reaksi Tuberkulin)

Dilakukan untuk menentukan belum atau sudahnya seseorang terinfeksi basil TBC. Reaksi ini dilakukan dengan penyuntikan intradermal dari tuberkulin, suatu filtrat dari pembiakan basil yang mengandung produk pemisahannya (protein) yang khas.

a. Reaksi Positif

Tampak sebagai kemerah-merahan setempat dan menunjukkan terdapatnya antibodies terhadap basil TBC di dalam darah. Hal ini berarti bahwa yang bersangkutan pernah mengalami infeksi primer atau telah divaksinasi dengan BCG. Antibodi tersebut telah menjadikannya kebal terhadap infeksi baru. Orang dengan reaksi tuberkulin positif harus diperiksa lebih lanjut sputum dan paru-parunya dengan sinar Rontgen.

b. Reaksi Negatif

Berarti bahwa orang yang bersangkutan belum pernah mengalami infeksi primer. Ia lebih mudah terserang TBC daripada orang dengan reaksi positif.

2. Vaksin BCG

Daya tangkis orang dengan reaksi tuberkulin negatif dapat diperkuat melalui vaksinasi dengan vaksin BCG. Vaksin ini mengandung basil TBC sapi yang telah dihilangkan keganasannya (virulensi) setelah dibiakkan di laboratorium selama bertahun-tahun. Vaksinasi meninggalkan tanda bekas luka yang nyata, biasanya dilengan bawah dan memberikan kekebalan selama 3-6 tahun terhadap infeksi primer dan efektif untuk rata-rata 70%. Vaksin BCG terutama efektif untuk menghindari TBC miliar dan TBC meningitis. Bayi di daerah dengan insidensi TBC besar seringkali diimunisasi dengan BCG secara rutin.

Efektivitas vaksin BCG adalah kontroversial, walaupun sudah digunakan lebih dari 50 tahun di seluruh dunia. Hasilnya sangat bervariasi, beberapa penelitian baru telah memperlihatkan perlindungan terhadap lepra, tetapi sama sekali tidak terhadap TBC. Vaksin BCG diberikan intradermal 0,1 ml bagi anak-anak dan orang dewasa, 0,05 untuk bayi.

3. Kemoprofilaksis

Terutama dilakukan dengan isoniazida. Anak-anak di bawah usia 4 tahun dari keluarga penderita TBC dan orang-orang dengan resiko besar untuk dihinggapi infeksi dapat diberikan secara kontinu selama 6 bulan isoniazida sebagai profilaksis. Bila terdapat intoleransi dapat diganti dengan rifampisin, maksimal 6 bulan. Di samping itu, dilakukan pula imunisasi dengan BCG. Untuk profilaksis terhadap infeksi M. avium dianjurkan monoterapi dengan antibiotikum makrolida azitromisin (1 kali seminggu 1.200 mg)

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Tuberkulosis

Tuberkulosis, singkatnya TBC adalah suatu penyakit menular yang paling sering terjadi di paru-paru. Penyebabnya adalah suatu basil Gram-positif tahan-asam dengan pertumbuhan sangat lamban, yakni Mycobacterium tuberculosis. Gejala TBC diantaranya adalah :

- Batuk kronis
- Demam
- Berkeringat waktu malam
- Keluhan pernapasan
- Perasaan letih
- Malaise
- Hilang nafsu makan
- Turunnya berat badan
- Rasa nyeri di bagian dada
- Dahak berupa lendir atau mengandung darah

Infeksi Primer

Setelah terjadi infeksi melalui saluran napas, di dalam gelembung paru (alveoli) berlangsung reaksi peradangan setempat dengan timbulnya benjolan-benjolan kecil (tuberkel). Sering kali sistem-tangkas tubuh yang sehat dapat memberantas basil dengan cara menyelubunginya dengan jaringan pengikat. Infeksi primer ini lazimnya menjadi abses “terselubung” (incapsulated) dan berlangsung tanpa gejala hanya jarang disertai batuk dan napas berbunyi.

Pada orang-orang dengan sistem-imun lemah (anak-anak, manula, penderita AIDS) dapat timbul radang paru hebat. Basil TBC memperbanyak diri di dalam makrofag dan benjolan-benjolan bergabung menjadi infiltrat yang akhirnya menimbulkan rongga (caverna) di paru-paru. Bila kemudian terjadi hubungan antara paru-paru dan cabang bronchi, maka terjadilah TBC terbuka (tuberculosis cavernosus) dengan adanya basil di dahak (sputum). TBC terbuka ini berbahaya sekali. Walaupun hanya bercirikan batuk kronis, tetapi bersifat sangat menular. Penderita dengan kondisi seperti itu merupakan sumber merajalelanya TBC dengan mendadak di sekelompok masyarakat. Hal ini terjadi hanya pada lebih kurang 10% dari semua infeksi.

Infeksi dapat pula menyebar melalui darah dan limfe ke organ lain dari tubuh adalah ke :

- Saluran Pencernaan (Intestinal tuberculosis). Tuberculous peritonitis yang menimbulkan ascites merupakan TBC lambung kedua yang paling umum

- Ginjal dan juga bagian-bagian dari sistem urogenital (penyebab kemandulan pada wanita)

- Susunan saraf pusat, yang menyebabkan radang selaput otak (tuberculous meningitis) pada anak-anak

- Kerangka tubuh, mengakibatkan osteomyelitis

Disamping ini juga organ lain dapat terkena infeksi, yaitu kulit (lupus vulgaris), mata, pericardium jantung (pericarditis), kelenjar adrenal (menyebabkan Addison’s disease) dan simpul-simpul limfe.

Di organ terinfeksi itu timbul abses bernanah atau pertumbuhan liar dari jaringan pengikat yang selalu disertai dengan pembesaran simpul limfe. Tanpa pengobatan akhirnya dapat terjadi kerusakan hebat yang berakhir fatal.

Reaktivasi

Kadang-kadang dalam waktu setahun atau lebih infeksi primer – akibat proses reaktivasi penyakit lama (post-primary tuberculosis) atau kadangkala karena reinfeksi dengan kuman tuberkel yang menyebar melalui saluran darah – berkembang menjadi TBC-miliar yang pada umumnya berakibat fatal. Reaktivasi demikian terutama dapat timbul bila daya tangkis tubuh menurun, misalnya manula, pengidap HIV dan pasien yang menjalankan terapi imunosupresiva (kortikosteroida atau stostatika).

Mycobacteria Lain

Pengidap AIDS kini semakin sering dihinggapi infeksi dengan berbagai jenis Mycobacteria lain (“atipis”, tidak khas) seperti Mycobacterium avium intracellulare (MAI) yang terdapat di air dan tanah. Mikroorganisme ini pada umumnya bersifat resisten terhadap obat-obat TBC biasa sehingga menjadi masalah besar pada terapi AIDS. Infeksi MAI tidak dapat ditulari dari manusia ke manusia.

Penularan Mycobacterium bovis (sapi) melalui susu dari sapi yang menderita TBC kelenjar susu jarang sekali terjadi. Infeksi demikian dapat dihindari dengan mempasteurisasikan atau memasak susu.

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment