Tuberkulosis

Ada yang menganggap remeh, ada juga yang takut. Tuberkulosis dahulu hanya dianggap sebagai penyakit yang hanya dapat menyerang kalangan bawah, padahal anak-anak atau dewasa dengan gizi baik pun dapat terkena. Menurut D. Erlina Burhan, SpP (K), ahli Paru RS. Persahabatan , Jakarta. Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium tuberculosis ini, menyebabkan kerusakan terutama pada paru, menimbulkan ganggun berupa batuk, sesak napas, bahkan dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya. Bila dibiarkan, kuman ini dapat menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian. Saat ini tuberkulosis merupakan penyakit menular penyebab kematian utama di Indonesia.

Tuberkulosis

Tuberkulosis

Berdasarkan hasil survei pada tahun 2010, jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia mencapai 289 per 100.000 penduduk. Bandingkan saja dengan jumlah penduduk di Indonesia yang sebesar 239 juta pada saat itu. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke-5 negara dengan penderita tuberkulosisi terbesar di dunia.

Tuberkulosis bukan penyakit baru buat Indonesia. Sudah ada sederet upaya memberantas penyakit ini dari pemerintah, tapi tidak juga berhasil membuat tuberkulosis dan penyebabnya lengkap. Indonesia hingga kini masih saja dirundung ancaman kematian akibat tuberkulosis.

Penyakit Tuberkulosis

Menurut Dr. Erlina, kematian akibat tuberkulosis umumnya karena kegagalan pengobatan. Ini terutama dipengaruhi oleh kurangnya oengertian mengenai tuberkulosis, faktor ekonomi, pengobatan yang tidak teratur, adanya penyakit penyerta, serta kebiasaan merokok dan gizi penderitannya.

Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, karena dahulu, penderita tuberkulosis jarus meminum4 jenis obat setiap hari selama 6 bulan. Biaya pengobatan tuberkulosis yang cukup besar, menyebabkan penderita nekat berhenti minum obat setelah 2-3 bulan. Biasanya selama masa ini, gejala tuberkulosis memang berkurang, badan tidak lagi kurus, meski sebenarnya kuman tuberkulosis hanya tertidur sementara waktu.

Pengobatan TBC

Putus pengobatan bukan tanpa risiko. Kuman yang luar biasa penyebab tuberkulosis ini akan bangun lagi dan menjadi lebih ganas. Sering kali penderita tuberkulosis yang putus obat, datang kembali dengan gejala yang lebih berat beberapa bulan kemudian. Bahkan sampai tidak lagi dapat diatasi dengan pengobatan standar karena kuman menjadi kebal.

Penderita tuberkulosis tentunya tidak bisa berhenti dalam pengobatan ini. Pengobatan tuberkulosis akan dihentikan bila gejala dan penyebab mulai menghilang dan tidak menunjukkan kemunculan kembali, tentunya atas ijin dan tetap dalam pengawasan dokter. Namun semua itu tergantung dari pola hidup penderita dan menjauhi penderita TBC lainnya.

Bila seperti ini, pengobatan akan menjadi sangat sulit. Pasien harus disuntik setiap hari selama 2 bulan. Itupun tidak menjamin kesembuhan, karena paru-paru atau organ lain sudah terlanjur rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi. Pengobatan yang seharusnya hanya 6 bulan, dapat menjadi jauh lebih panjang sampai 1-2 tahun.

Dengan demikian, keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada kepatuhan penderita dalam minum obat tbc. Kehadiran pengawas dalam minum obat (PMO), apalagi orang yang dekat atau dihormati oleh penderita, selain mengingatkan untuk minum obat juga memberi semangat untuk sembuh. Selain rutin meminum obat, pasien juga hendaknya memperhatikan asupan makanan yang disantapnya, agar bergizi baik dan tinggi protein. Ini akan turut mendukung proses penyembuhan agar lebih sempurna.

Penularan Tuberkulosis

Penularan tuberkulosis terjadi lewat dari seorang penderita positif TBC dan kemudian ditentukan juga berdasarkan dari jumlahnya kuman yang ada di dalam paru-paru si penderita, biasanya penyebaran kuman yang terjadi di udara lewat dari dahak bisa berbentuk droplet. Penderita penyakit TBC paru yang mengandung banyak jumlah kuman akan bisa terlihat dari mikroskop dalam suatu pemeriksaan dahak yang dilakukan adalah hal yang sangat menular. Pada penderita penyakit TBC paru-paru, dengan hasil BTA yang positif biasanya akan mengeluarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet yang biasanya bentuknya sangat kecil disaat sedang batuk atau juga saat sedang bersin. Droplet yang jumlahnya sangat kecil ini kemudian akan mengering dengan lebih cepat dan bisa berubah menjadi droplet yang mengandung kandungan kuman tuberkulosis. Biasanya hal ini bisa dbertahan di udara paling tidak selama beberapa jam.

Droplet yang banyak mengandung kuman kemudian akan masuk terhirup oleh orang lain. Dan jika kuman ini sudah masuk dan menetap tinggal di dalam paru orang yang menghirupnya, maka kuman akan mulai membelah dirinya dan akan terjadi suatu infeksi dari satu orang ke orang yang lainnya.

Diagnosis penyakit tuberkulosis ini ditegakkan berdasarkan jika adanya suatu gejala tbc atau keluhan, pemeriksaan pada biakan, pemeriksaan secara mikroskopis, radiologik, dan juga pemeriksaan tuberkulin tes. Dan melakukan pemeriksaan biakan biasanya hasil yang akan didapatkan menjadi lebih baik, namun waktu dari pemeriksaan ini biasanya akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Sehingga untuk saat ini pemeriksaan dahak dengan menggunakan mikroskopis lebih banyak dilakukan karena melihat dari sensitivitas dan juga spesivitasnya yang tinggi dan disamping itu juga sangat tinggi dan disamping itu juga jumlah biayanya yang sanga rendah. Untuk seorang penderita yang dinyatakan menderita penyakit tbc biasanya akan mengalami sakit paru menulaar seperti gejala batuk berdahak selama 3 kali. Dan kuman ini baru akan terlihat menggunakan mikroskopis jika jumlah dari kuman paling sedikit adalah paling tidak sekitar 5000 batang dalam waktu 1 ml dahak. Dan dalam pemeriksaan ini maka dahak yang sangat baik adalah dahak yang mukopurulen yang warnanya hijau agak kekuningan dan jumlahya juga harus sekitar 3-5 ml dalam tiap pengambilannya.

Tuberkulosis

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , | Comments Off

Tuberkulosis Pada Anak

Tuberkulosis Pada Anak – Penyakit tuberkulosis dapat menyerang manusia mulai dari usia anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Penyakit tuberkulosis biasanya banyak ditemukan pada pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim. Tuberkulosis pada anak dapat terjadi di usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun.

Tuberkulosis Pada Anak

Tuberkulosis Pada Anak

Tuberkulosis pada Anak

Anak-anak lebih sering mengalami tuberkulosis luar paru-paru (extapulmonary) dibanding tuberkulosis paru-paru dengan perbandingan 3:1. Tuberkulosis luar paru-paru adalah tuberkulosis berat yang terutama ditemukan pada usia < 3tahun. Angka kejadian (prevalensi) tuberkulosis paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian meningkat setelah usia remaja di mana tuberkulosis paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).

Keluhan tuberkulosis pada anak yang sering muncul, antara lain :

  • Demam : subfebris, febris (40-41◦C) hilang timbul.
  • Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkhus. Batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang yang dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). Sesak nafas : bila sudah lanjut di mata infiltrasi radang sampai setengah paru-paru.
  • Nyeri dada : jarang ditemukan, nyeri akan timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
  • Malaise : ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan keringat malam.
  • Sianosis, sesak napas dan kolaps merupakan gejala atelektasis,. Bagian dada pasien tidak bergerak pada saat bernpasa dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Pada foto toraks, pada sisi yang sakit tampak bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.
  • Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal, karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular.

Pemeriksaan Tuberkulosis Anak

Pemeriksaan fisik Tuberkulosis Pada Anak :

  1. Pada tahap dini sulit diketahui
  2. Ronchi basah, kasar dan nyaring
  3. Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskulatasi memberikan suaru umforik
  4. Pada keadaan lanjut terjadi atropi, retraksi interkostal dan fibrosis
  5. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak).

Kasus tuberkulosis pada anak adalah salah satu jenis masalah yang khusus yang berbeda dengan kasus penyakit tbc pada orang dewasa. Perkembangan dari penyakit TBC pada anak saat ini berkembang dengan pesat. Dan paling tidak sekurang-kurangnya ada sekitar 500.000 anak didunia ini yang menderita tuberkulosis dalam hitungan setiap tahunnya. Di negara Kita, proporsi dari kasus tuberkulosis anak pada semua kasus yang sudah ternotifikasi di dalam program TB ada dalam batas yang normal yakni adalah sekitar 8-11% namun jika dilihat berdasarkan tingkatan provinsi sampai juga fasilitas dari pelayanan kesehatan, variasi proporsi menunjukkan hal yang cukup lebar yakni adalah 1,8-15,9%. Untuk membantu mengobati masalah permasalah tuberkulosis anak, maka saat ini sudah diterbitkan suatu panduan tingkat global. Tuberkulosis pada anak saat inia dalah salah satu bentuk komponen yang sangat penting untuk bisa mengendalikan penyakit TBC, dengan cara pendekatan pada kelompok orang-orang yang mempunyai resiko tinggi dalam hal menderita penyakit tbc dan salah satunya adalah anak-anak, mengingat tuberkulosis merupakan salah satu penyebab dari kematian yang tinggi pada anak dan bayi di negara endemis tuberkulosis.

Pemeriksaan penemuan pasien tuberkulosis pada anak bisa dilakukan dengan cara pemeriksaan seperti :

  1. Anak yang melakukan kontak erat dengan mereka yang menderita TB menular. Kontak erat misalnya adalah tinggal 1 rumah atau juga sering bertemu dengan penderita TB. Pasien TB yang menular adalah salah seorang pasien Tb dari hasil suatu pemeriksaan sputumnya BTA yang dinyatakan positif dan umumnya lebih banyak terjadi pada usia dewasa.
  2. Anak dengan tanda dan gejala klinis yang sesuai dengan Tuberkulosis pada anak. TBC adalah salah satu jenis penyakit dari infeksi sistemik dan juga lebih sering menyerang bagian orang paru-paru. Gejala TBC yang klinis dari penyakit ini adalah bisa berupa gejala umum atau juga tergantung dari organ yang terkait. Penakanan pada gejala klinis TB harus diperlukan, karena gejala yang tidak khas juga akan bisa disebabkan karena berbagai jenis penyakit yang lainnya selain penyakit tuberkulosis.

Diagnosis Tuberkulosis pada Anak

Tuberkulosis adalah salah satu jenis penyakit yang menular dan angka kejadian kaus TB di Indonesia sangat tinggi. Diagnosis yang ditegakan pada kasus TB seperti umumnya jenis penyakit menular yang lain adalah dengan menemukan terlebih dahulu penebab dari penyakit TB yakni adalah kuman atau bakteri Mycibacterium tuberculosis. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan sputum, membilas lambung, penggunaan cairan serebrospinal, dan cairan pleura atau menggunakan biopsi jaringan. Diagnosis yang ditegakkan berdasarkan dari suatu pemeriksaan mikrobiologi yang biasanya terdiri dari beberapa tahapan, yakni adalah :

  1. Pemeriksaan mikroskopis apusan langsung atua jaringan untuk menemukan BTA
  2. Dan pemeriksaan pada perkembabiakan kuman TB

Untuk anak yang mengalami penyakit tuberkulosis, maka sangat dianjurkan untuk melakukan suatu emeriksaan mikrobiologi. Pemeriksaan serologi yang dilakukan biasanya tidak direkomendasikan oleh Who dalam hal sarana diagnosti TB. Pemeriksaan mikrobiologik ini sulit dilakukan pada anak karena susahnya dalam mendapatkan spesimen. Spesimen misalnya adalah dalam bentuk sputum, induksi sputum atau juga melakukan pemeriksaan seperti  bilas lambung selama 3 hari berturut-turut.

Tuberkulosis Pada Anak

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena ineksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paur termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar. Diperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia pernah terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis.

Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis Paru

Epidemiologi Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang sejarahnya dapat dilacak sampai ribuah tahun sebelum masehi. Sejak zaman purba penyakit ini dikenal sebagai penyebab kematian yang menakutkan. Sampai pada saat Robert Koch menemukan penyebab tuberkulosis, penyakit ini masih termasuk penyaki yang mematikan. Istilah saat itu untuk penyakit yang mematikan ini adalah “consumption”. Tuberkulosis di Amerika Serikat pada tahun 1915. Saat itu, masih dianut paham bahwa penularan tuberkulosis adalah melalui kebiasaan meludah di sembarang tempat dan ditularkan melalui debu dan lalat. Hingga tahun 1960, paham ini masih dianut di Indonesia.

Di negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Utara, angka kesakitan maupun angka kematian tuberkulosis paru pernah menurun secara tajam. Di Amerika Utara, saat awal orang Eropa berbondong-bondong bermigrasi ke sana, kematian akibat tuberkulosis pada tahun 1.800 sebesar 650 per 100.000 penduduk, tahun 1860 turun menjadi 400 per 100.000 penduduk, di tahun 1900 menjadi 210 per 100.000 penduduk, pada tahun 1920 turun lagi menjadi 100 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1969 turun secara drastis menjadi 4 per 100.000 penduduk per tahun. Angka kematian karena tuberkulosis di Amerika serikat pada tahun 1976 telah turun menjadi 1,4 per 100.000 penduduk. Penurunan angka kesakitan maupun angka kematian ini diyakini disebabkan oleh :

  • Membaiknya keadaan sosioekonomik
  • Infeksi pertama yang terjadinya pada usia muda

Tuberkulosis masih meningkat saat ini meskipun banyak yang masih menyakini bahwa ini merupakan masalah pada waktu lampau. Meskipun paling sering terlihat sebagai penyakit paru. Tuberkulosis dapat mengenai selain paru (16%) dan mempengaruhi organ dan jaringan lain. Insiden lebih tinggi pada laki-laki, bukan kulit putih dan lahir di negara asing.

Selain itu, orang pada risiko paling tinggi termasuk yang dapat terpajan pada basilus pada waktu lalu dan yang tidak mampu atau mempunyai kekebalan rendah karena kondisi kronis, seperti AIDS, kanker, usia lanjut, malnutrisi dsb. Kebanyakan pasien diobati sebagai pasien rawat jalan, tetapi dapat dirawat di rumah sakit selama evaluasi, diagnostik/ awal pengobatan, reaksi merugikan dari obat atau penyakit atau ketidakmampuan berat.

 Diagnosis Penyakit Tuberkulosis

Diagnosis dari penyakit tuberkulosis paru-paru dilakukan jika penyakit TBC biasanya akan menimbulkan suatu gejala atau tanda klinis yang terbagi menjadi dua yakni adalah gejala respiratorik dan gejala sistematik. Gejala respiratorik misalnya adalah gejala seperti batuk, batuk darah, sesak nafas, nyeri pada dada. Sedangkan gejala sistemik adalah demam, keringat dimalam hari, anoreksia, dan berat badan menurun atau mengalami malaise.

Gejala respiratorik terjadi dengan sangat bervariasi misalnya adalah tidak adanya suatu gejala sampai gejala yang muncul mulai cukup berat. Namun semua ini tergantung dari luasnya lesi. Terkadang pasien yang sudah terdiagnosis pada saat melakukan pemeriksaan. Jika bronkus masih belum terlibat dalam proses penyakit TB ini, maka kemungkinan pasien tidak akan mengalami gejala batuk. Gejala batuk yang pertama kali muncul diakibatkan karena adanya suatu iritasi pada bronkus, dan selanjutnya batuk ini dibutuhkan dalam hal pembuangan dahak untuk keluar.

Pada perkembangan awal penyakit tbc, biasanya sangat susah sekali dalam menemukan adanya suatu kelainan yang terjadi dalam pemeriksaan fisik. Kelainan yang biasanya banyak dijumpai semuanya tergantung dari jenis organ yang mengalami infeksi. Kelainan yang terjadi pada paru biasanya terletak pada daerah lobus superior yang paling utama terjadi pada daerah apeks dan juga di segmen posterior. Dan dalam suatu pemeriksaan fisik yang dilakukan, maka akan dijumpai beberapa gejala seperti suara napas bronkial, amforik, suara napas yang mulai melemah, ronki yang basah, serta adanya suatu tanda-tanda pada penarikan paru, diafragma dan juga mediastinum.

Untuk pemeriksaan yang dilakukan pada mereka yang diduga menderita penyakit Tuberkulosis paru, maka akan dilakukan 3 pemeriksaan spesimen dahak dalam jangka waktu selama 2 hari dilakukan di pagi hari sewaktu (SPS). Dan berdasarkan dari suatu panduan pada program TB nasional, diagnosis yang ditegakkan pada penyak tuberkulosis paru orang dewasa dengan dilihatnya adanya suatu kuman TB atau BTA. Sedangkan dalam pemeriksaan lain misalnya seperti foto thorax, biasanya biakan dan juga uji dari kepekaan yang bisa digunakan sebagai salah satu penunjang dari diagnosis yang sesuai dan juga cocok dengan indikasi dan tidak dibenarkan dalam hal mendiagnosis tuberkulosis jika diagnosis yang dibuat hanya berdasarkan dari pemeriksaan foto thorax saja.

Pemeriksaan penunjang dari penyakit tbc paru adalah dengan pemeriksana bakteriologis. Pemeriksaan bakteriologis ini dilakukan untuk membantu menemukan kuman penyebab tbc yang mempunyai suatu arti yang sangat penting untuk bisa mendiagnosis penyakit. Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan bakteriologis adalah dari dahak, cairan pleura, bilasan pada bronkus, liquor cerebrospinal, bilasan pada lambung, kurasan dari bronkoalveolar, urin, feeces, dan juga melakukan jaringan pada biopsi.

Tuberkulosis Paru

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Pemeriksaan Tuberkulosis

Pemeriksaan Tuberkulosis – Indonesia menempati urutan ketiga didunia, setelah India dan China pada penyakit Tuberkulosis. Untuk mengatasi dan mengurangi jumlah penderita tuberkulosis, Indonesia menerapakan DPS (Dokter Praktik Swasta) dan menerapkan strategi DOTS (Directly Obseved Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap dan digunakan sebagai satu-satunya strategi pemberantasan tuberkulosis di Indonesia.

Pemeriksaan Tuberkulosis

Pemeriksaan Tuberkulosis

Pengobatan Tuberkulosis

Penting sekali DPS untuk memiliki paradigma bahwa pengobatan pasien tuberkulosis harus mengupayakan kesembuhan, tidak sekedar menemukan, mendiagnosis dan mengobati saja. Strategi DOTS memudahlan mencapai tujuan pengobatan tuberkulosis yaitu kesembuhan.

Adapun DOTS meliputi lima komponen kunci, yaitu :

  1. Komitmen politis. Ini bisa harus ada pada setiap dokter yang akan mengobati paisen tuberkulosis. Poin yang pertama ini berarti bahwa dokter bersedia dengan penuh tanggung jawab untuk menangani pasien tersebut hingga sembuh. Jika dokter tidak bersedia menangani, ia boleh merujuk pasien ke unit pelayanan kesehatan lainnya seperti puskesmas atau rumah sakit.
  2. Pemeriksaan dahak mikroskopik yang terjamin mutunya, yaitu pemeriksaan 3 kali dahak SPS (sewaktu pagi sewaktu).
  3. Pengobatan jangka pendek, termasuk pengawasan langsung pengobatan. Pengobatan minimal dilakukan 6 bulan baik pasien tuberkulosis anak maupun dewasa dan diawasi oleh PMO (pengawas minum obat).
  4. Jaminan ketersediaan obat anti tuberkulosis (OAT) yang bermutu. Pemerintah memberikan OAT gratis bagi pasien tuberkulosis.

Hingga saat ini Pemeriksaan Tuberkulosis lewat dahak menjadi Pemeriksaan Tuberkulosis yang wajib dilakukan untuk pasien tuberkulosis dewasa dan anak yang sudah bisa mengeluarkan dahak. Pemeriksaan dahak sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah pasien benar-benar menderita penyakit tbc atau tidak. Selain itu pasien dengan pemeriksaan dahak yang menunjukkan BTA (+) harus ditangani khusus karena ia menjadi sumber penularan bagi orang lain.

Pemeriksaan Tuberkulosis

Untuk mendiagnosis tuberkulosis, Pemeriksaan Tuberkulosis dengan dahak dilakukan minimal 3 kali yaitu saat datang ke laboratorium hari pertama, saat pagi hari ketika bangun tidur hari kedua, dan saat datang lagi ke laboratorium hari kedua. Rangkaian pemeriksaan ini disebut dengan SPS (sewaktu pagi sewaktu). Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, pasien harus mengerti bahwa yang diperiksa adalah dahak, riak/sputum, bukan air liur/ludah. Oleh karena itu, sebelum pasien datang ke laboratorium, dokter harus menjelaskan hal tersebut kepada pasien, termasuk cara mengeluarkan dahak apabila pasien kesulitan mengeluarkan dahak.

Selain dengan melakukan pemeriksaan dahak, pemeriksaan tuberkulosis yang dilakukan adalah dengan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan ini merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang rutin dilakukan yakni dengan foto thorax. Pemeriksaan ini atas indikasi dari pemeriksaan foto apikolordotik, oblik, dan CT scan. Tuberkulosis biasanya akan memberikan suatu gambaran dengan bervariasi pada foto thorax. Gambaran dari radiologis yang biasanya ditemukan bisa berupa :

  1. Bayangan yang muncul pada lesi lapangan yang letaknya diatas paru atau juga segmen dari apikal lobus bawah.
  2. Bayangan berawan dan juga adanya bercak
  3. Adanya suatu kavitas tunggal dan ganda
  4. Bayangan berbentuk bercak militer
  5. Bayangan pada efusi pleura, dan umumnya adalah unilateral
  6. Destroyed lobe sampai destroyed lung
  7. Klasifikasi
  8. Shcwate

Selain dengan melakukan pemeriksaan dahak dan pemeriksaan radiologis, pemeriksaan khsuus yang lain yang bisa dilakukan dalam hal pemeriksaan tuberkulosis adalah :

  1. BACTEC dengan cara metode radiometrik, dimana letak dari CO2 yang dihasilkan dari sistem metabolisme asam lemak M. Tuberculosis yang dideteksi dari growth indeksnya.
  2. Polymerase chain reaction (PCR) dengan cara melakukan suatu deteksi DNA dari M. Tuberculosis, namun hanya saja masalah teknik yang terjadi dari pemeriksaan ini adalah suatu kemungkinan dari kontaminasi.
  3. Pemeriksaan dari serologi : misalnya seperti ELISA, ICT,dan Mycodot.

Pemeriksaan tuberkulosis penunjang lainnya adalah misalnya dengan :

  1. Pemeriksaan analisan cairan pleura dan juga hispatologi jaringan
  2. Pemeriksaan darah dimana letak LED masih bisa mengalami peningkatan namun tidak bisa digunakan sebagai salah satu indaktor yang lebih spesifik lagi dari penyakit TB.

Di Idonesia dengan kasus TB yang tinggi, melakukan uji tuberkulin sebagai salah satu alat bantu untuk melakukan dan menegakkan diagnosis pada penyakit biasanya kurang berguna untuk orang dewasa. Hal ini mempunyais suatu manfaat jika sudah didapatkan suatu konversi, bila dan kepositifan dari yang bisa didapat dan jumlahnya besar sekali.

Jika sudah melakukan pemeriksaan, maka penderita akan melakukan pengobatan dengan cara minum obat. Penentuan dari dosis pada terapi kombinasi pemberian obat tetap misalnya 4 obat semua berdasarkan dari rentang dosis yang sudah ditentukan oleh WHO dan merupakan dosis yang sangat efektif atau juga masih termasuk ke dalam salah satu batas dosis terapi dan non toksik. Untuk kasus yang bis amendapatkan obat dari kombinasi dosis tetap tadi, jika Anda mengalami suatu efek samping yang terjadi lebih serius lagi, maka Anda harus melakukan pemeriksaan kerumah sakit atau pada dokter spesialis paru atau juga utnuk fasiliti yang bisa menangani masalah ini.

Seseorang yang sudah melakukan pengobatan dengan minum obat tbc dinyatakan sembuh jika mempunyai beberapa kriteria seperti :

  1. BTA mikroskopis yang menunjukkan negatif sebanyak 2 kali.
  2. Foto thorax atau gambaran dari radiolohi serial yang tetap sama atau mengalami suatu perbaikan.
  3. Adanya suatu perbaikan yang klinis dalam bentuk batuk yang menghilang, dan naiknya berat badan.
  4. Jika ada suatu fasiliti biakan, maka kriteria ini bisa ditambahkan biakan negatifnya

Pemeriksaan Tuberkulosis

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Tuberkulosis TBC

Penyakit Tuberkulosis TBC adalah salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini dapat menyerang semia bagian tubuh manusia namun yang paling sering terkena (90%) adalah organ paru.  Gejala TBC pari tdak sama dengan pneumonia, karena kuman yang menyerang TBC spesifik sedangkan kuman yang menyerang pneumonia dapat beracam-macam. Organ yang diserang pada TBC dapat bervariasi, namun 90% menyerang paru-paru, sedangkan pada pneumonia yang diserang selalu organ paru-paru. Tetapi TBC dan pneumonia prosesnya sama yakni berupa infeksi paru-paru.

Penyakit Tuberkulosis TBC

Penyakit Tuberkulosis TBC

Penyakit Tuberkulosis

Gejala penyakit tuberkulosis TBC paru umum adalah batuk berdahak terus menerus selama 3 minggu atau lebih. Pada tahap lanjut, dapat dijumpai dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, badan lemak, nafsu makan menurun, berat badan turun,  rasa kurang enak  badan  (malaise), berkeringat malam walaupun  tanoa kegiatan, demam meriang >1bulan. Saat batuk atau bersin, penderita TBC menebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman tersebut dapat bertahan di udara pada suhu selama beberapa jam.

Penularan gejala penyakit tuberkulosis TBC paru dapat terjadi jika droplet tersebut terhidup saluran pernapasan orang lain. Setelah masuk ke dalam tubuh melalalui pernapasan,  kuman TB menyebar dari paru ke organ dalam tubuh lainnya, melalui system peredaran darah, system saluran limfe, saluran napas, dan lain-lain.  Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari paru. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila  hasil pemeriksaan dahak negative (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Selain itu, kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara.

Bakteri TBC memiliki daya tahan  yang kuat dan tetap hidup walau sudah diberi antibiotic, sehingga membutuhkan pengobatan berbulan-bulan. Saat segala sudah reda, harus tetap menjalani pengiobatan karena kuman TBC tersebut tetap  aktif dan siap membentuk kekebalan terhadap obat  yang masuk ke dalam tubuh. Jika pengobatan berhenti sebelum  waktunya, maka dikhawatirkan timbul resistensi (kekebalan) bakteri TBC  terhadap antibiotika sehingga pengibatan akan semakin sulit dan semakin mahal.

Penderita  yang mengalami TBC tidak selalu mengalami batuk berdarah. Karena batuk berdarah dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena penyakit paru-paru lainnya atau adanya pendarahan didaerah hidung bagian belakang yang tertelan dan pada saat batu keluar dari mulut. Bisa juga  karena batuk terlalu keras sehingga menyebabkan lukanya saluran nafas dan mengeluarkan darah.

Penularan Penyakit TBC

Umumnya media penularan TBC melalui percikan dahak penderita saat batuk dan meludah. Bisa juga melalui debum alat makan atau minum yang mengandung kuman TBC. Kuman yang masuk ke dalam tubuh akan berkembang biak, lama terkumpulnya kuman sampai timbulnya gejala penyakit dapat berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

Penyakit tuberkulosis TBC adalah salah satu jenis penyakit infeksi menular yang umumnya lebih sering menyerang paru-paru. Jika seseorang sudah mengalami infeksi dari serangan bakteri penyebab tbc maka akan mengalami suatu hal yang buruk seperti daya kerja dan produktivitas kerja yang mengalami penurunan, selain itu juga akan menularkannya kepada orang lain dan paling besar resikonya adalah keluarga yang tinggal serumah dan pada akhirnya akan menyebabkan komplikasi fatal seperti kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Sekitar 95,9% penyakit tuberkulosis lebih sering menyerang paru-paru. Dan cara penularannya adalah lewat ludah atau juga dahak yang mengandung banyak basil atau kuman TBC paru. Pada waktu seseorang penderita TBC batuk, maka butir-butir dari air ludah yang beterbangan di udara akan dihisap oleh orang yang sehat dan kemudian akan masuk ke dalam paru. Setelah itu akan menyebabkan penyakit TBC paru.

Gejala Tuberkulosis

Gejala penyakit Tuberkulosis TBC adalah :

  1. Batuk berdahak lebih dari 2 minggu
  2. Batuk berdarah atau juga mengeluarkan bercak darah
  3. Nyeri di sekitar dada
  4. Sesak nafas disaat sedang bernapas

Masa inkubasi dari penyakit TBC paru adalah sekitar dari mulai terinfeksi sampai juga pada lesi primer yang muncul, sedangkan waktunya berkisar diantara 4-12 minggu untuk mengalami tuberkulosis paru. Pada pulmonair progresif dan juga extrapulmonair, tuberkulosis ini biasanya akan membutuhkan waktu lebih panjang lagi sampai beberapa tahun. Da dari periode potensi dari penularan, maka selama basil tuberkel yang ada pada sputum atau dahak. Untuk beberapa kasus tanpa melakukan suatu pengobatan atau juga dengan melakukan pengobatan yang tidak adekuat mungkin akan menyebabkan kambuhan dengan sputum yang nilainya positif dalam waktu beberapa tahun. Tingkatan atau derajat dari suatu penularan semuanya bergantung dari kepada banyaknya jumlah basil dari tuberkulosis yang ada di dalam sputum, virulensi dari atas basil dan juga adanya suatu peluang terjadinya pencemaran udara yang berasal dari batuk, bersin dan juga berbicara keras secara umum.

Kepekaan untuk bisa mengalami infeksi penyakit ini adalah semua pendidik, tidak adanya suatu perbedaan antara jenis kelamin laki-laki dan wanita, tua muda, dan juga bayi serta balita. Kepekaan yang paling tinggi terjadi pada anak yang berusia kurang dari 3 tahun yang paling renndah untuk anak yang lahir akhir pada usia 12-13 tahun, dan bisa menjadi semakin tinggi lagi di usia remaja dan usia lanjut.

Penyakit Tuberkulosis TBC

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Tuberkulosis Paru Pada Anak

Tuberkulosis Paru Pada Anak  – Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi akibat mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru, dengan gejala yang sangat bervariasi. Penting untuk diperhatikan bahwa janis bisa tertular tuberkulosis dari ibunya selama masih berada dalam kandunga, sebelum atau selama persalinan berlangsung (karena menghirup atau menelan cairan ketuban yang terinfeksi). atau setelah lahir (karena menghirup udara yang terkontaminasi oleh percikan ludah yang terinfeksi. Jika tidak diobati dengan antibiotik atau tidak divaksinasi, maka sekitar 50% bayi yang ibunya merupakan penderita tuberkulosis aktif akan menderita penyakit ini pada tahun pertamanya.

Tuberkulosis Paru Pada Anak

Tuberkulosis Paru Pada Anak

Gejala Tuberkulosis pada Anak

Gejala Tuberkulosis Paru Pada Anak  yang timbul pada bayi dan anak berupa:

  • Demam
  • Tampak mengantuk
  • Tidak kuat mengisap
  • Gangguan pernapasan
  • Gagal berkembang (tidak terjadi penambahan berat badan)
  • Pembesaran hati dan limpa karena organ ini menyaring bakteru tuberkulosis sehingga menyebabkan aktivasi sel-sel darah putih.

Sementara itu, gejala tuberkulosis yang timbul pada orang dewasa berupa :

  • Batuk lebih dari 4 minggu, dengan atau tanpa dahak (sputum)
  • Lemas
  • Timbul gejala flu
  • Berkeringat pada malam hari
  • Berat badan turun
  • Demam ringan
  • Nyeri di bagian dada
  • Batuk berdarah

Diagnosis Penyakit TBC

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik
Gambaran gejala TB paru berupa :

  • Tahap asimptomatis
  • Timbul gejala TB yang khas, kemudian stagnasi dan regresi
  • Kekambuhan/feksaserbasi yang memburuk
  • Gejala berulang dan menjadi kronis

Pemeriksaan Tuberkulosis

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :

  • Terdapat sekret di saluran napas dan ronki
  • Tanda-tanda infiltrasi suara napas yang redup, ronki basah
  • Tanda-tanda ada penarikan paru, difragma dan mediastinum dada

Pada pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan darah rutin memperlihatkan bahwa laju endap darah (LED) normal atau meningkat, serta terjadi limfositosis (limfosit tinggi).

Pada foto thoraks :

  • Terdapat gambaran lesi di bagian atas paru atau segmen apikal lobus bawah
  • Gambaran berawan (patchy) atau bercak (nodular)
  • Adanya kavitas tunggal atau ganda
  • Adanya pengapuran atau klasifikasi paru
  • Gambaran menetap pada pemeriksaan beberapa minggu kemudian
  • Gambaran milier

Pemeriksaan dahak (sputum)
Pemeriksaan sputum terhadap basil tahan asam (BTA) yang positif memastikan diagnosis TB paru. Namun pemeriksaan ini kurang sensitif karena hanya mendeteksi sekitar 30 hingga 70%.

Tes PAP (Perosidase Anti Peroksidase)
Tes ini merupakan uji serologi imunoperoksidase menggunakan alat histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya imunoglobulin G (IgG) spesifik terhadap basil TB

Tes Tuberkulin/Mantoux
Pilihan lain adalah melakukan tes tuberkulin/mantoux.

Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah untuk bisa menemukan kuman penyebab tuberkulosis paru pada anak Anda bisa menegakkan diagsnosis penyakit TB anak misalnya adalah dengan cara memadukan suatu gejala yang klinis dan juga melakukan suatu pemeriksaan dalam hal penunjang yang lain yang sesuai. Adanya suatu riwayat dari kontak yang sangat erat hubungannya dengan pasien penyakit TBC yang menular adalah salah satu jenis informasi yang sangat penting dalam hal mengetahui adanya suatu sumber dari penularan. Dan kemudian selanjutnya, perlu adanya suatu pembuktian apakah anak sudah mengalami penularan dari kuman TBC dengan cara melakukan uji tuberkulin. Uji tuberkulin yang dilakukan pada tuberkulosis paru pada anak akan menandakan adanya suatu reaksi dari hipersensitifitas pada antigen yang diberikan.

Hal ini dengan tidak langsung maka akan menandakan bahwa pernah ada kuman yang masuk ke dalam tubuh paisen atau anak yang sudah mengalami penularan. Anak yang mengalami penularan belum tentu juga menderita penyakit TBC hanya karena tubuh pasien mempunyai daya tahan tubuh atau juga karena sistem imunitas yang cukup dalam melawan kuman penyakit TBC. Jika sistem daya tahan tubuh anak sudah cukup baik, maka pasien tersebut secara klinis biasanya akan terlihat sehat dan juga keadaan ini biasanya disebut dengan suatu infeksi TB Laten. Namun jika sistem daya tahan tubuh anak mengalami penurunan dan tidak bisa mengendalikan kuman maka biasanya anaka akan menderita penyakit TB serta akan menunjukkan suatu gejala klinis dan juga gejala radiologis. Gejala tbc yang klinis serta radiologis pada TB anak akan menjadi tidak spesifik, karena gambaran yang lebih mirip gejala akibat dari penyakit yang lainnya. Oleh sebab itulah, sangat dibutuhkan suatu ketelitian yang sangat tinggi untuk bisa menilai suatu gejala yang klinis pada pasien atau juga pada suatu hasil foto thorax.

Pemeriksaan tuberkulosis paru pada anak penunjang lainnya yang paling utama adalah membantu untuk menegakkan diagnosis penyakit TB pada anak dengan membuktikan bahwa adanya suatu infeksi seperti melakukan uji tuuberkulin atau mantoux test. Tuberkulin yang ada di Indonesia saat ini adalah dengan melakukan PPD RT-23 2 Tu dan Staten Serum Institute Denmark, produksi dari Biofarma. Namun, uji tuberkulin ini belum terseida dalam semua fasilitas pelayanana kesehatan. Cara yang bisa dilakukan untuk melaksanakan terdapat suatu lampiran.

Dalam pemeriksaan penunjang yang lain dan sangat cukup penting adalah suatu pemeriksaan foto thorax. Namun, gambaran dari foto thorax yang terdapat di tuberkulosis paru pada anak sifatnya tidak khas karena biasanya juga akan dijumpai pada penyakit yang lainnya. Dan dengan demikian, pemeriksaan dari foto thorax saja tidak bisa digunakan dalam hal melakukan dan menegakkan diagnosis Tb kecuali jika gambaran dari TB milier.

Tuberkulosis Paru Pada Anak

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Tuberkulosis

Gejala Tuberkulosis – TBC merupakan infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksi biasanya terjadi di bagian atas paru-paru. Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh manusia dapat menghambat perkembangbiakan bakteri penyebab TBC. Akan tetapi, pada saat kondisi tubuh seseorang melemah, bakteri tersebut dapat berkembang biak.

Gejala Tuberkulosis

Gejala Tuberkulosis

Gejala Tuberkulosis

Gejala Tuberkulosis antara lain :

  • Kelelahan
  • Kehilangan berat badan
  • Berkeringat pada malam hari

Jika infeksi lebih buruk, Gejala Tuberkulosis yang akan timbul yaitu :

  • Dada sakit
  • Batuk dengan mengeluarkan dahak atau darah
  • Napas pendek atau sesak nafas

Penderita TBC dapat diobati dengan pemberian antibiotik oleh dokter. Pengobatan secara teratur selama 6-12 bulan dapat mencegah TBC kambuh lagi. Penyakit TBC merupakan penyakit menular. Oleh karena itu, pencegahan Gejala Tuberkulosis dilakukan dengan menghindari kontak langsung dengan penderita TBC. TBC dapat menular misalnya melalui dahak penderita TBC yang secara tidak langsung terhirup manusia yang sehat.

Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guedrin)

Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menghindarkan balita dari penyakit tuberkulosis atau TBC. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, TBC masih menjadi penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara maju, penyakit TBC sudah sangat jarang ditemukan karena keberhasilan imunisasi BCG yang dilaksanakannya secara luas.

Balita dapat terkena penyakit TBC karena menghirup udara yang mengandung kuman TBC yang berasal dari orang dewasa penderita TBC. Atau dapat pula terjadi balita terkena penyakit TBC sejak lahir karena ia dilahirkan oleh ibu penderita TBC. Penyakit TBC paling sering menyerang paru-paru, tetapi kuman ini juga dapat menyerang kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati dan selaput otak. Penyakit TBC selaput otak merupakan jenis TBC yang paling berat.

Imunisasi BCG sebaiknya diberikan kepada bayi yang baru lahir hingga berusia 2 bulan. Setiap 5 tahun, revaksinasi harus dilakukan. Sebab vaksin BCG tidak memberikan kekebalan 100% terhadap serangan penyakit TBC. Artinya vaksin ini hanya menjamin balita terbebas dari serangan penyakit TBC berat, misalnya TBC paru-paru kronis, TBC otak, atau TBC tulang yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian pada balita.

Faktor Resiko Penyakit Tuberkulosis

Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi seseorang mengalami penyakit tuberkulosis adalah :

  1. Faktor sosial ekonomi
    Hubungan antara kondisi lingkungan rumah dan sekittar sangat menentukan penularan tbc terjadi. Kepadatan keluarga juga sangat berhubungan erat dalam hal penularan penyakit TBC.
  2. Status gizi
    Status gizi seseorang yang mengalami kekurangan kandungan makanan yang mengandung gizi serta nutrisi tinggi akan sangat memperanguhi sistem kekebalan tubuh seseorang sehingga akan menjadi lebih rentan dalam penyakit lainnya termasuk salah satunya adalah penyakit TBC paru-paru. Keadaan yang seperti ini sangat menentukan seseorang bisa mengalami infeksi penyakit TB.
  3. Usia
    Untuk penyakit TBC lebih sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif. Saat ini sudah mengalami suatu transisi demografi yang bisa mengakibatkan usia harapan hidup seorang lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun dalam hal sistem imunologis seseorang akan mengalami penurunan, sehingga akan menjadi sangat rentan untuk mengalami serangan penyakit dan salah satunya adalah termasuk penyakit Tb-paru.
  4. Jenis kelamin
    Pria lebih tinggi mengalami resiko penyakit TBC. Pada pria, jenis penyakit ini biasanya lebih tinggi terjadi menyebabkan kematian akibat dari merokok tembakau dan mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol sehingga akan membuat sistem pertahanan tubuh seseorang menurun dan akan lebih mudah mengalami paparan pada agent yang menjadi penyebab dari tbc.

Cara Mencegah Penyakit TBC

Cara mencegah penyakit TBC adalah dengan melakukan beberaoa hal dibawah ini :

  1. Memelihara kesehatan tubuh.
  2. Perlunya sarana kesehatan, pemeriksaan pada penderita, kontak atau juga suatu suspect gambas, dan sering dilaporkan, pemeriksaan serta pengobatan dini pada penderita, melakukan perawatan.
  3. Pengobatan yang peventif biasanya hal ini diartikan sebagai salah satu tinakan keperawatan pada penderita dengan cara memberikan obat INH sebagai bentuk pencegahan.
  4. Pemberian BCG, atau vaksinasi, dan hal ini diberikan pada bayi dengan cara perlindungan untuk ibu dan kelurganya. Kemudian pemberian ini dilakukan 5 tahun  kemudian dan pada waktu 12 tahun di tingkat tersebut dalam bentuk suatu pencegahan.
  5. Memberantas penyakit TBC dalam hal memerah susu.

Strategi pengobatan dari gejala tuberkulosis adalah adalah dengan melakukan DOTS atau Directly Observed Treatment Shortcourse atau DOTS yang merupakan salah satu bentuk dari strategi pengobatan pada penyakit tuberkulosis paru dengan menggunakan OAT yang lebih mengutamakan kepada pengawasan minum obat selama proses masa pengobatan sedang berlangsung, selain itu juga mencegah pasien putus berobat serta melakukan pencarian dan juga penemuan untuk kasus yang baru di kalangan masyarakat. Dalam melakukan program ini akan ada suatu pengawas minum obat yang mempunyai tugas dalam hal PMO untuk bisa mengawasi pasien TB bisa menelan obat tbc dengan teratur sampai pengobatan selesai, dengan memberikan doronhgan atau motivasi pada pasien, dan kembali mengingatkan pasien untuk melakukan pemeriksaan ulang pada dahak dalam waktu yang sudah ditentukan serta juga memberikan suatu penyuluhan pada pasien.

Kunci dari keberhasilan pengobatan ini adalah dengan menerapkan DOTS yang biasanya juga sudah dianut oleh negara kita. Oleh sebab itulah pemahaman mengenai DOTS adalah salah satu hal yang sangat penting agar penyakit tuberkulosis bisa ditangani dengan baik.

Gejala Tuberkulosis

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cara Penularan TBC

Cara Penularan TBCPenyakit TBC ditularkan dari orang ke orang, terutama melalui saluran napas dengan menghisap atau menelan tetes-tetes ludah/dahak (droplet infection) yang mengandung basil dan dibatukkan oleh penderita TBC terbuka. Atau juga karena adanya kontak antara tetes ludah/dahak tersebut dan luka di kulit. Dalam tetes-tetes ini kuman dapat hidup beberapa jam dalam udara panas lembab, dalam nanah bahkan beberapa hari. Untuk membatasi penyebaran perlu sekali di -screen semua anggota keluarga dekat yang erat hubungannya dengan penderita. Dengan demikian penderita baru dapat dideteksi pada waktu yang dini.

Cara Penularan TBC

Cara Penularan TBC

Penyakit TBC

Ada banyak kesalahfahaman mengenai daya Cara Penularan TBC. Umumnya ada anggapan bahwa tuberkulosis bersifat sangat menular, tetapi pada hakikatnya bahaya infeksi relatif tidak begitu besar dan dapat disamakan dengan penularan pada penyakit infeksi saluran pernapasan lainnya, seperti selesma dan influenza. Akan tetapi bahaya semakin meningkat, karena sering kali seseorang tidak diketahui sudah menderita TBC (terbuka) dan telah menularkannya pada orang-orang di sekitarnya sebelum penyakitnya terdeteksi.

Pencegahan Cara Penularan TBC

Cara Penularan TBC perlu diwaspadai dengan mengambil tindakan-tindakan pencegahan selayaknya untuk menghindarkan infeksi tetes dari penderita ke orang lain. Salah satu cara adalah batuk dan bersin sambil menutup mulut/hidung dengan sapu tangan atau kertas tissue untuk kemudian didesinfeksi dengan lysol atau dibakar. Bila penderita berbicara, jangan terlampau dekat dengan lawan bicaranya. Ventilasi yang baik dari ruangan juga memperkecil bahaya penularan.

Anak-anak dibawah usia satu tahun dari keluarga yang menderita TBC perlu divaksinasi BCG sebagai pencegahan, bersamaan dengan pemberian isoniazid 5-10 mg/kg selama 6 bulan (kemoprofilaksis).

1. Reaksi Mantoux (Reaksi Tuberkulin)

Dilakukan untuk menentukan belum atau sudahnya seseorang terinfeksi basil TBC. Reaksi ini dilakukan dengan penyuntikan intradermal dari tuberkulin, suatu filtrat dari pembiakan basil yang mengandung produk pemisahannya (protein) yang khas.

a. Reaksi Positif

Tampak sebagai kemerah-merahan setempat dan menunjukkan terdapatnya antibodies terhadap basil Tuberkulosis di dalam darah. Hal ini berarti bahwa yang bersangkutan pernah mengalami infeksi primer atau telah divaksinasi dengan BCG. Antibodi tersebut telah menjadikannya kebal terhadap infeksi baru. Orang dengan reaksi tuberkulin positif harus diperiksa lebih lanjut sputum dan paru-parunya dengan sinar Rontgen.

b. Reaksi Negatif

Berarti bahwa orang yang bersangkutan belum pernah mengalami infeksi primer. Ia lebih mudah terserang TBC daripada orang dengan reaksi positif.

2. Vaksin BCG

Daya tangkis orang dengan reaksi tuberkulin negatif dapat diperkuat melalui vaksinasi dengan vaksin BCG. Vaksin ini mengandung basil TBC sapi yang telah dihilangkan keganasannya (virulensi) setelah dibiakkan di laboratorium selama bertahun-tahun. Vaksinasi meninggalkan tanda bekas luka yang nyata, biasanya dilengan bawah dan memberikan kekebalan selama 3-6 tahun terhadap infeksi primer dan efektif untuk rata-rata 70%. Vaksin BCG terutama efektif untuk menghindari TBC miliar dan TBC meningitis. Bayi di daerah dengan insidensi TBC besar seringkali diimunisasi dengan BCG secara rutin.

Efektivitas vaksin BCG adalah kontroversial, walaupun sudah digunakan lebih dari 50 tahun di seluruh dunia. Hasilnya sangat bervariasi, beberapa penelitian baru telah memperlihatkan perlindungan terhadap lepra, tetapi sama sekali tidak terhadap tuberkulosis. Vaksin BCG diberikan intradermal 0,1 ml bagi anak-anak dan orang dewasa, 0,05 untuk bayi.

3. Kemoprofilaksis

Terutama dilakukan dengan isoniazida. Anak-anak di bawah usia 4 tahun dari keluarga penderita tuberkulosis dan orang-orang dengan resiko besar untuk dihinggapi infeksi dapat diberikan secara kontinu selama 6 bulan isoniazida sebagai profilaksis. Bila terdapat intoleransi dapat diganti dengan rifampisin, maksimal 6 bulan. Di samping itu, dilakukan pula imunisasi dengan BCG. Untuk profilaksis terhadap infeksi M. avium dianjurkan monoterapi dengan antibiotikum makrolida azitromisin (1 kali seminggu 1.200 mg).

Pengobatan Tuberkulosis

Pengobatan yang dilakukan petugas kesehatan pada penderita penyakit Tuberkulosis adalah :

  1. Penderita dengan dahak yang masih banyak dan mengandung kuman maka sebaiknya melakukan pengobatan dirumah sakit atau puskesmas terdekat.
  2. Selain itu petugas bisa memberikan suatu pengobatan dalam jangka pendek dirumah untuk penderita dengan darurat atau disebabkan karena jarak tempat tinggal dari penderita dengan puskesmas kumayan jauh jadi tidak bisa melakukan pengobatan dengan minum obat tbc secara teratur.
  3. Laporan mengenai adanya suatu gejala tbc yang samping yang terjadi, jika perlu penderita sebaiknya bisa dibawa ke puskesmas.

Salah satu bentuk pencegahan penyakit tubrkulosis adalah dengan melakukan penyuluhan mengenai penyakit tuberkulosis.

  1. Petugaas baik di masa persiapan atau juga dalam waktu yang selanjutnya secara berkala harus memberikan suatu penyulihan pada masyarakat secara luas lewat tatap muka, lewat ceramah dan juga media massa yang tersedia pada wilayahnya, dan juga memberikan suatu penyuluhan mengenai pencegahan pada penyakit Tb paru.
  2. Memberikan penyuluhan pada penderita dan keluarga disaat kunjungan rumah dan juga memberikan saran untuk bisa mendapatkan suasana rumah sehat.
  3. Memberikan penyuluhan secara perorangan dengan khusus untuk penderita agar melakukan pengobatan secara teratur dan mencegah penyebaran penyakit pada orang lain.
  4. Melakukan perubahan pola hidup masyarakat dan juga perbaikan tentang lingkingan demi untuk mencapai masyarakat yang sehat.
  5. Sebaiknya menganjurkan masyarakat untuk melapor jika pada beberapa warganya mengalami gejala penyakit tbc.
  6. Menghilangkan rasa malu pada penderita TBC, karena penyakit TBC bukanlah suatu penyakit yang memalukan.

Cara Penularan TBC

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Tuberkulosis

Penyakit Tuberkulosis, singkatnya TBC adalah suatu penyakit menular yang paling sering terjadi di paru-paru. Penyebabnya adalah suatu basil Gram-positif tahan-asam dengan pertumbuhan sangat lamban, yakni Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit Tuberkulosis

Penyakit Tuberkulosis

Gejala Penyakit Tuberkulosis

Gejala Penyakit Tuberkulosis diantaranya adalah :

  • Batuk kronis
  • Demam
  • Berkeringat waktu malam
  • Keluhan pernapasan
  • Perasaan letih
  • Malaise
  • Hilang nafsu makan
  • Turunnya berat badan
  • Rasa nyeri di bagian dada
  • Dahak berupa lendir atau mengandung darah
  • Sesak nafas

Infeksi Primer Penyakit Tuberkulosis

Setelah terjadi infeksi melalui saluran napas, di dalam gelembung paru (alveoli) berlangsung reaksi peradangan setempat dengan timbulnya benjolan-benjolan kecil (tuberkel). Sering kali sistem-tangkas tubuh yang sehat dapat memberantas basil dengan cara menyelubunginya dengan jaringan pengikat. Infeksi primer ini lazimnya menjadi abses “terselubung” (incapsulated) dan berlangsung tanpa gejala hanya jarang disertai batuk dan napas berbunyi.

Infeksi Penyakit TBC

Pada orang-orang dengan sistem-imun lemah (anak-anak, manula, penderita AIDS) dapat timbul radang paru hebat. Basil TBC memperbanyak diri di dalam makrofag dan benjolan-benjolan bergabung menjadi infiltrat yang akhirnya menimbulkan rongga (caverna) di paru-paru. Bila kemudian terjadi hubungan antara paru-paru dan cabang bronchi, maka terjadilah TBC terbuka (tuberculosis cavernosus) dengan adanya basil di dahak (sputum). TBC terbuka ini berbahaya sekali. Walaupun hanya bercirikan batuk kronis, tetapi bersifat sangat menular. Penderita dengan kondisi seperti itu merupakan sumber merajalelanya TBC dengan mendadak di sekelompok masyarakat. Hal ini terjadi hanya pada lebih kurang 10% dari semua infeksi.

Infeksi Penyakit Tuberkulosis dapat pula menyebar melalui darah dan limfe ke organ lain dari tubuh adalah ke :

  • Saluran Pencernaan (Intestinal tuberculosis). Tuberculous peritonitis yang menimbulkan ascites merupakan TBC lambung kedua yang paling umum
  • Ginjal dan juga bagian-bagian dari sistem urogenital (penyebab kemandulan pada wanita)
  • Susunan saraf pusat, yang menyebabkan radang selaput otak (tuberculous meningitis) pada anak-anak
  • Kerangka tubuh, mengakibatkan osteomyelitis

Disamping ini juga organ lain dapat terkena infeksi, yaitu kulit (lupus vulgaris), mata, pericardium jantung (pericarditis), kelenjar adrenal (menyebabkan Addison’s disease) dan simpul-simpul limfe.

Di organ terinfeksi itu timbul abses bernanah atau pertumbuhan liar dari jaringan pengikat yang selalu disertai dengan pembesaran simpul limfe. Tanpa pengobatan akhirnya dapat terjadi kerusakan hebat yang berakhir fatal.

Reaktivasi Penyakit Tuberkulosis

Kadang-kadang dalam waktu setahun atau lebih infeksi primer – akibat proses reaktivasi penyakit lama (post-primary tuberculosis) atau kadangkala karena reinfeksi dengan kuman tuberkel yang menyebar melalui saluran darah – berkembang menjadi TBC-miliar yang pada umumnya berakibat fatal. Reaktivasi demikian terutama dapat timbul bila daya tangkis tubuh menurun, misalnya manula, pengidap HIV dan pasien yang menjalankan terapi imunosupresiva (kortikosteroida atau stostatika).

Mycobacteria Lain

Pengidap AIDS kini semakin sering dihinggapi infeksi dengan berbagai jenis Mycobacteria lain (“atipis”, tidak khas) seperti Mycobacterium avium intracellulare (MAI) yang terdapat di air dan tanah. Mikroorganisme ini pada umumnya bersifat resisten terhadap obat-obat TBC biasa sehingga menjadi masalah besar pada terapi AIDS. Infeksi MAI tidak dapat ditulari dari manusia ke manusia.

Penularan Mycobacterium bovis (sapi) melalui susu dari sapi yang menderita TBC kelenjar susu jarang sekali terjadi. Infeksi demikian dapat dihindari dengan mempasteurisasikan atau memasak susu.

Pengobatan Tuberkulosis

Pengobatan penyakit tuberkulosis dilakukan dengan cara :

  1. Pemberian pengobatan OAT maka proses penularan dari penyakit tuberkulosis akan dengan mudah bisa dicegah dengan lebih total, misalnya adalah suatu keadaan yang bisa memisahkan sumber dari penularan dan juga lingkungan keluarganya.
  2. Pengobatan rawat jalan, dilakukan dengan seadanya misalnya adalah asupan makanan yang mengandung nutrisi atau gizi yang baik, lingkungan keluarga yang selalu mendukung dan penderita melakukan aktivitasnya seperti biasa. Hal dari pengobatan penyakit tuberkulosisis ini dengan pembrian OAT yang diberikan secara teratur.

Selain dengan melakukan pengobatan penyakit tuberkulosis, hal yang dilakukan adalah pencegahan penyakit tuberkulosis. Cara mencegah penyakit tbc adalah :

  1. Mengobati pasien kasus BTA positif karena hal ini merupakan salah satu sumber penularan. Pengobatan dilakukan sampai sembuh untuk membantu memutuskan rantai dari penularan.
  2. Menganjurkan pada penderita penyakit tuberkulosis untuk menutup hidung dan juga menutup mulut jika sedang batuk dan sedang bersin.
  3. Jika mengalami batuk berdahak, sebaiknya dahaknya ditampung ke dalam pot yang isinya lisol 5% atau juga dahaknya ditimbun dengan tanah.
  4. Sebaiknya jangan membuang dahak di lantai atau sembarangan tempat
  5. Meningkatkan kondisi kesehatan dan kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
  6. Untuk penderita penyakit tbc sebaiknya jangan tidur atau sekamar dengan anggota keluarga yang lain selama 2 bulan melakukan pengobatan.
  7. Tingkatkanlah gizi
  8. Memberikan imunisasi BCG pada bayi
  9. Memberikan pengobatan serta pencegahan pada anak balita yang tidak mempunyai suatu gejala Tb namun mempunyai anggota keluarga yang mengalami penyakit TB paru atau penyak BTA positif.

Penanggulangan dari TB tingkat keberhasilannya diukur dengan cara ksembuhan penderita. Kesembuhan ini juga selain mampu mengurangi jumlah dari penderita penyakit tuberkulosis, juga mampu mencegah terjadinya penularan yang terjadi. Oleh sebab itulah untuk menjamin suatu kesembuhan pada penderita penyakit tuberkulosis. Oleh sebab itulah, untuk menjamin suatu kesembuhan, maka obat harus diminum dan juga penderita harus diawasi dengan lebih ketat dari keluarga atau teman-teman disekitarnya.

Penyakit Tuberkulosis

Posted in Tuberkulosis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment